Jumat, 06 September 2013

Budaya Pop


Banyak kalangan menyebut budaya pop sebagai lawan dari budaya lokal atau budaya leluhur. Hal ini dikarenakan budaya pop yang bersumber dari proses globalisasi dan kapitalisme telah menggeser budaya lokal hingga kehilangan identitas dirinya.

Defenisi Budaya Pop
Budaya popular (Popular Culture) atau sering disebut budaya pop memiliki banyak defenisi yang sampai sekarang masih diperdebatkan. Menurut Williams, budaya mengacuh pada proses umum perkembangan intelektual, spiritual, dan estetis. Budaya dapat juga berarti pandangan hidup dari masyarakat, periode, atau kelompok tertentu. Selain itu, Williams juga mengatakan bahwa budaya bisa merujuk pada karya dan praktik-praktik intelektual, terutama aktivitas artistik. Sedangkan istilah “popular”, oleh Williams diberi empat makna, yakni; (1) banyak disukai orang; (2) jenis kerja rendahan; (3) kerja yang dilakukan untuk menyenangkan orang; (4) budaya yang memang dibuat  orang untuk dirinya sendiri (Williams, 1983: 237). Selanjutnya, ada beberapa defenisi yang dapat lahir berdasarkan penggabungan kata “budaya” dan “popular” menurut Williams.
Defenisi budaya pop juga berasal dari analisis politik Antonio Gramsci. Dilihat dari perspektif Gramsci, budaya pop merupakan lahan pertarungan (site of strunggle) antara kekuatan resistensi dan kelas subordinat terhadap kekuatan kelas-kelas dominan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa budaya pop lahir akibat pertarungan ideologi antara kelas dominan dan subordinasi, budaya dominan dan budaya subordinasinya.
Douglas MacDonald dalam buku Rosenberg dan White, Mass Culture, menyatakan bahwa "Budaya populer adalah budaya hina dan remeh yang mengkaburkan realitas dan menghilangkan identitas  yang pada akhirnya malah menginginkan produk-produk budaya yang sepele dan nyaman.
Secara umum, berdasarkan pendapat di atas. Defenisi budaya pop dapat dibagi menjadi dua kategori; pertama, budaya pop diartikan sebagai budaya rendahan yang merupakan lawan dari budaya tinggi (high culture); kedua, budaya pop diartikan sebagai budaya massa (massiv) karena disenangi oleh banyak orang (dominasi) meskipun yang pada akhirnya merupakan budaya komoditas yang diproduksi besar-besaran berdasarkan tujuan profit.

Ideologi Budaya Pop
Budaya pop yang selanjutnya disebut-sebut sebagai cucu kapitalisme telah membentuk ideologinya sendiri, yang kemudian menggeser nilai-nilai leluhur budaya lokal secara perlahan namun pasti. Indonesia yang terkenal dengan budaya timur yang santun dan sarat akan nilai-nilai moral perlahan-lahan terkikis oleh maraknya budaya pop yang masuk melalui media film, iklan, musik, surat kabar, hingga dunia maya sekalipun. Memang tidak dapat dipungkiri, media merupakan pintu gerbang menyebarnya virus budaya pop yang jika tidak berhati-hati dapat mematikan identitas diri. Sebuah budaya yang tidak memperhatikan subtansi, bahkan mengabaikan aksidennya, budaya yang cenderung berangkat dari pengetahuan yang dangkal, tidak disertai kesadaran yang utuh, ikut-ikutan atau sekedar mejeng

Realitas Kekinian  
Budaya pop muncul sebagai momok yang menghampiri semua aspek kehidupan lewat media. Dewasa ini, perempuan merupakan objek empuk. Perempuan tidak lagi memiliki sistem imun sehingga sangat mudah terjangkit virus budaya pop. Lihat saja iklan, yang hampir tak pernah tidak menjadikan perempuan sebagai objeknya. Iklan membentuk citra perempuan cantik dan ideal mulai ujung rambut sampai ujung kaki, mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali.
Di kalangan umat Islam, kini mulai marak iklan dan industri jasa yang menawarkan “wisata religius”, “paket spiritualisme dan sufisme”, umroh bersama kyai beken, berdirinya sekolah-sekolah Islam yang mahal berlabel “IT” alias Islam Termahal, cafe khusus muslim, menjamurnya kounter-kounter berlabel Exclusice Moslem Fashion, kegandrungan kelas menengah atas akan Moslem Fashion Show dan berdirinya pusat-pusat perbelanjaan yang memanfaatkan sensibilitas keagamaan untuk keuntungan bisnis. Marak juga penerbitan majalah Islam (khususnya Muslimah) yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan majalah umum lainnya. Yang ditawarkan pun sama; mode, shopping, soal gaul, dan pacaran yang dianggap pengelolanya “yang Islami”. Slogan yang ditawarkan pun bermacam-macam: Jadilah Muslimah yang gaul dan smart! Jadilah Muslimah yang cerdas, dinamis, dan trendi! Jadilah cewek Muslimah yang proaktif dan ngerti fashion! Kini agama pun telah diperjualbelikan.
Dalam aspek ekonomi, munculnya perbankan yang katanya berbasis syariah Islam menjadi trend tersendiri. Sistem bagi hasil yang ditawarkan menjadi nilai jual sendiri dalam bisnis perbankan. Dalam kenyataannya, bank yang menggunakan sistem ini belum terbukti murni berbasis syariah. Lagi-lagi, Islam menjadi komoditi yang diperjual-belikan.
Dalam dunia musik Indonesia, siapa yang tak kenal musisi ternama Iwan Fals yang terkenal dengan lagu-lagunya yang sebagian besar bertemakan kritik sosial. Siapa yang pernah berpikir bahwa di balik lagu-lagu yang menyiratkan anti dominasi, anti hegemoni, pesan misi-misi kemanusian, menyoroti ketimpangan-ketimpangan, kritik terhadap kesewenangan, ketidakadilan dan masalah sosial maupun masalah politik lainnya ternyata terjadi komersialisasi. Dalam sebuah penelitian yang bertemakan Idealisme Yang Tergadai dalam Lirik Lagu Iwan Fals ( Analisis Wacana Kritis Lirik Lagu Iwan Fals ”Galang Rambu Anarki dan Bento” menunjukkan bahwa industri musik dibelakang nama besar Iwan Fals telah memperoleh keuntungan yang cukup besar. Tidak hanya industri musik, musisi tersebut juga mendapatkan profit yang cukup tinggi, dengan agendanya menjual misi sosial demi kesenangan publik yang merasa terwakili oleh sentuhan lirik-lirik pembebasan Iwan Fals. Galang Rambu Anarki dan Bento adalah salah satu dari banyak lagu yang menjadi hits dan laris dipasaran.
Kondisi-kondisi tersebut memperlihatkan adanya manipulasi budaya. Atau dengan bahasa lain, dalam analisis musik pop Adorno, bahwa asas pertukaran mengaburkan sekaligus mendominasi asas manfaat. Hari ini, budaya pop berkembang tergantung pendefenisiannya. Realitas mengatakan yang dominan saat ini adalah defenisi yang dibawah oleh penguasa yang sifatnya aksidental.
Sebenarnya, yang perlu dikritik dari budaya pop adalah nafasnya yang berlandaskan kapitalisme dan globalisasi. Nafas yang membawa ideologi dari kepentingan-kepentingan penguasa.

Efek Budaya Pop
  • Adanya pertarungan ideologi Barat vs ideologi Islam mengakibatkan Islam terpinggirkan akibat massiv-nya ideologi barat.
  • Kedangkalan pengetahuan akan budaya pop mengakibatkan kedangkalan pengetahuan yang pada akhirnya mengabaikan substansi dan mementingkan aksiden semata.
  • Perempuan sebagai objek yang dominan atas terjangkitnya budaya pop mengakibatkan hilangnya kehormatan perempuan.
Solusi
  • Memperjelas defenisi budaya pop itu sendiri.
  • Diperlukannya proses humanisasi kembali (rehumanisasi) agar tidak tejebak pada defenisi budaya pop yakni defenisi budaya pop sebagai budaya massa.
  • Dalam bidang ekonomi, diperlukan adanya telaah kritis ekonomi dalam Islam sesuai sistem ekonomi Islam.
  • Memberi substansi dalam aksiden budaya pop yang dipahami sebagian besar masyarakat dengan kedangkalan pengetahuannya.
  • Menjadi pengendali di kemudian hari (penguasa media).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar