Jumat, 06 September 2013

"dia (perempuan) adalah apa yang dikatakan laki-laki dan iklan."


Tubuh langsing, rambut lurus dan panjang, kulit putih bersinar, serta bola mata indah dengan lensa kontak warna menjadi citra perempuan cantik dewasa ini. Pada abad pertengahan di Eropa, kecantikan perempuan berkaitan erat dengan kemampuan reproduksinya. Pada abad ke-15 sampai ke-17, perempuan cantik dan seksi adalah mereka yang punya perut dan panggul yang besar serta dada yang montok ( bagian tubuh yang berkait dengan fungsi reproduksi). Kemudian pada awal abad ke-19 kecantikan didefinisikan dengan wajah dan bahu yang bundar serta tubuh montok. Sementara itu, memasuki abad ke-20 kecantikan identik dengan perempuan dengan bokong dan paha besar. Di Afrika dan India, umumnya perempuan dianggap cantik jika ia bertubuh montok, terutama ketika ia telah menikah, sebab kemontokannya menjadi lambang kemakmuran hidupnya. Pada tahun 1965 model Inggris, Twiggy, yang kurus kerempeng menghentak dunia dengan tubuhnya yang tipis dan ringkih. Ia lalu digandrungi hampir seluruh perempuan seantero jagat dan menjadi ikon bagi representasi perempuan modern saat itu. Menurut feminis Naomi Wolf, apa yang dilakukan dunia mode lewat Twiggy saat itu merupakan dekonstruksi citra montok dan sintal sebelumnya. Twiggy yang kerempeng adalah representasi gerakan pembebasan perempuan dari mitos kecantikan yang sebelumnya dikaitkan dengan fungsi reproduktif.
Tidak dapat dipungkiri, defenisi perempuan cantik  mengalami perubahan dari masa ke masa, dan

Budaya Pop


Banyak kalangan menyebut budaya pop sebagai lawan dari budaya lokal atau budaya leluhur. Hal ini dikarenakan budaya pop yang bersumber dari proses globalisasi dan kapitalisme telah menggeser budaya lokal hingga kehilangan identitas dirinya.

Defenisi Budaya Pop
Budaya popular (Popular Culture) atau sering disebut budaya pop memiliki banyak defenisi yang sampai sekarang masih diperdebatkan. Menurut Williams, budaya mengacuh pada proses umum perkembangan intelektual, spiritual, dan estetis. Budaya dapat juga berarti pandangan hidup dari masyarakat, periode, atau kelompok tertentu. Selain itu, Williams juga mengatakan bahwa budaya bisa merujuk pada karya dan praktik-praktik intelektual, terutama aktivitas artistik. Sedangkan istilah “popular”, oleh Williams diberi empat makna, yakni; (1) banyak disukai orang; (2) jenis kerja rendahan; (3) kerja yang dilakukan untuk menyenangkan orang; (4) budaya yang memang dibuat  orang untuk dirinya sendiri (Williams, 1983: 237). Selanjutnya, ada beberapa defenisi yang dapat lahir berdasarkan penggabungan kata “budaya” dan “popular” menurut Williams.

Senin, 29 Juli 2013

HARGA SEBUAH KECERDASAN Oleh: Romi Librayanto*


            Ketika seorang anak SMU atau yang sederajat telah dinyatakan lulus, maka sebahagian
besar dari mereka akan mempunyai impian agar dapat diterima dibangku Universitas
Negeri dimana mereka dapat mengenyam sebuah pendidikan yang berbeda dari yang
biasa mereka dapatkan selama beberapa tahun.
Terpancar dari mereka sebuah kesenangan atau malah sebuah kebanggaan semu
akanidahnya sebuah keidupan yang penuh dengan dinamika dan retorika-retorika yang
mampu menggoyang rezim sang penguasa. Terrbayang di benak mereka sebuah
diskusi dipojok-pojok ruanga ditemani dengan segelas kopi yang dikeroyok oleh
beberapa orang. Belumlagi piukiran-pikiran romantis yang telah banyak mereka dengar
dari kakak mereka, sebagai selingan dikala sedang mengikuti rapat-rapat atau
pertemuan pertemuan yang diadakan oleh lembaga kemahasiswaan. Ataupun juga
pikiran tenang interaksi antara dosen dan mahasiswa dalam membahas suatu persoalan
tang didapat.
Bagitu mereka yang doa dan impiannya terwujud, maka dengan semangat yang
menyala-nyala mengurus segala sesuatu yang diperlukan. Setelah itu mereka mealui
sebuah prosesi penerimaan mahasiswa baru yang melibatkan mahasiswa yang lebih
dahulu menginjakkan kaki di universitas ketimbang mereka. Rasa kagum nampak dari
wajah mereka yang lugu sebagai mahassiwa baru. Perasaan bangga tergambar dari
cara mereka meneriakkan slogan-slogan kebesaran fakultas atau universitas yang
disuruhkan oleh senior mereka. Seluruh rangkain penerimaan mahasiswa baru mereka
lalui dengan kesungguhan.
Tetapi kebangga itu tidak berumur panjang. Selang beberapa bulan kemudian, dimana
mereka telah banyak melihat, mendengar dan merasakan sana sini tentang kondisi yang
mereka dapatkan nanti, maka mereka mulai kehilangan orientasi. Dan akhirnya, prestasi
belajar mereka mampu bertahan sampai tiga atau empat semester. Ada apa disini?

1. Penyempitan Pemikiran

               Seorang dosen, ketika membuka oertemuannya dngan mahasiswa akan memberi
gambaran serta beberapa buku yang wajib di baca oleh mahasiswa. Bahkan dalam
perkuliahan selanjutnya pun sang dosen memberikan materi yang mau tak mau harus
diucata oleh mahasiswa. Karena tekun dan mempunyai daya analisis yang baik, maka
maasiswa tidak ragu ketika akan menghadapi ujian. Semua pertanyaan dijawab dengan
baik. Rasa keyakinannpun muncul bahwa ia akan memeperoleh nialai yang memuaskan
dirinya. Tetapi ketika ia melihat penguuman nilai, ternyata nilai yang ia peroleh tidak
sesuai dengan apa yang diharapkan. Disini ternyata telah terjadi proses doktrinisasi.
Apa yang diucapkan oleh dosen, maka itulah yang harus dihapal.
Seorang mahasiswa akan menjadi malas membaca buku dan menganalisis sesuatu
permasalahan, karena ini ternyata tidak memberika jaminan bahwa nilainya akan
memuaskan. Sehingga yang tercipta adalah kebiasaan menghapal catatan yang berasal
dari dosen. Atau dengan jalan pintas, membawa catatan kecil keda;lam ruangan yang
akan dijadikan senjata andalan untuk menghadapi soal-soal yang terkadang sampai
puluhan nomor.

MANAJEMEN ORGANISASI

Dalam membangun sebuah organisasi baru, sering muncul kecenderungan untuk
segera melebarkan jaringan kerja organisasi ke seluruh wilayah negeri. Hal ini sering
dilakukan tanpa memperhatikan kelangkaan dan keterbatasan kader organisasi, dimana
mereka pun seringkali masih berpencaran di mana-mana. Sebagai akibatnya, organisasi
tidak mampu merecruit anggota-anggota baru. Meskipun organisasi berhasil membangun
sistem jaringan yang kuat dalam jangka beberapa tahun saja, namun ia gagal dalam
membangun basis yang kuat di setiap kota industri terpenting. Kepemimpinan Organisasi
Sentralisasi maksimum aktivitas organisasi tidak akan bisa dicapai hanya dengan
membangun sistem kepemimpinan skematik, dengan mengumpulkan sejumlah besar
group organisasi yang tersusun dari bawah ke atas. Yang harus dilakukan di kota-kota
besar, sebagai pusat kehidupan ekonomi, politik dan jaringan komunikasi/tansportasi,
adalah meluaskan jaringan ke seluruh wilayah ekonomi politik yang mengelilingi dan atau
berada di sebuah kota. Pusat organisasi massaharus berkedudukan di kota industri
terbesar pada suatu wilayah/lokal. Dari sinilah ia harus mengarahkan seluruh pekerjaan
organisasi dan politik di sublokal-sublokalnya. Disamping itu organisasi harus menjaga
kontak yang erat dengan anggotanya dan massa mahasiswa yang bertempat tinggal di
sub lokal yang bersangkutan. Para organisator lokal, yang dipilih dalam konferensi lokal
dan disepakati oleh pengurus pusat harianl Organisasi, harus memainkan peranan yang
permanen dalam kehidupan organisasi di lokalnya. Pengurus lokal organisasi, sebagai
pimpinan politik tertinggi di lokal yang bersangkutan, harus terus menerus diperkuat
dengan anggota-anggotanya, dengan demikian akan memungkinkan Pengurus untuk
menjaga kontaknya dengan massa. Begitu organisasi semakin berkembang maka
pimpinan lokal organisasi harus benar-benar menjadi pimpinan politik seluruh aktivitas
politik di lokalnya. Sehingga Pengurus lokal organisasi, bersama-sama dengan Pengurus
Pusat, akan menjalankan kepemimpinan politik yang sebenarnya terhadap organisasi
secara keseluruhan. Garis yang membatasi ruang lingkup lokal organisasi tidak ditentukan
menurut garis batas wilayah geografisnya. Faktor yang paling menentukan adalah bahwa
Pengurus lokal organisasi harus selalu dalam posisi mengarahkan seluruh aktivitas subkomite lokalnya dengan mekanisme kerja yang seragam. Dan, jika inipun tidak mungkin
dilaksanakan, maka Pengurus lokal harus segera dipecah untuk membuat satu atau dua
Pengurus lokal yang baru. Di kota-kota besar, jika memang diperlukan, perlu dibentuk
berbagai organ yang menghubungkan berbagai Pengurus lokal ini dengan Pengurus
Pusat. Dalam situasi-situasi tertentu, jika diperlukan, organ-organ penghubung ini diberi
kepemimpinan (sebagai contoh adalah organisasi di kota besar yang memiliki banyak
anggota). Akan tetapi hal ini jangan sampai mendorong teradinya desentralisasi.

Komitmen Organisasi Oleh Drs. H. Zainuddin Sri Kuntjoro, MPsi. Jakarta, 25 Juli 2002

Dalam dunia kerja, komitmen seseorang terhadap organisasi/perusahaan seringkali menjadi isu yang
sangat penting. Saking pentingnya hal tersebut, sampai-sampai beberapa organisasi berani
memasukkan unsur komitmen sebagai salah satu syarat untuk memegang suatu jabatan/posisi yang
ditawarkan dalam iklan-iklan lowongan pekerjaan. Sayangnya meskipun hal ini sudah sangat umum
namun tidak jarang pengusaha maupun pegawai masih belum memahami arti komitmen secara
sungguh-sungguh. Padahal pemahaman tersebut sangatlah penting agar tercipta kondisi kerja yang
kondusif sehingga perusahaan dapat berjalan secara efisien dan efektif. Dalam rangka memahami
apa sebenarnya komitmen individu terhadap organisasi/perusahaan, apa dampaknya bila komitmen
tersebut tidak diperoleh dan mengapa hal tersebut perlu dipahami, penulis mencoba menjelaskannya
dalam artikel pendek ini.

Pengertian
           Porter (Mowday, dkk, 1982:27) mendefinisikan komitment organisasi sebagai kekuatan yang bersifat
relatif dari individu dalam mengidentifikasikan keterlibatan dirinya kedalam bagian organisasi. Hal ini
dapat ditandai dengan tiga hal, yaitu :
1. Penerimaan terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi.
2. Kesiapan dan kesedian untuk berusaha dengan sungguh-sungguh atas nama organisasi.
3. Keinginan untuk mempertahankan keanggotaan di dalam organisasi (menjadi bagian dari
organisasi).

            Sedangkan Richard M. Steers (1985 : 50) mendefinisikan komitmen organisasi sebagai rasa
identifikasi (kepercayaan terhadap nilai-nilai organisasi), keterlibatan (kesediaan untuk berusaha
sebaik mungkin demi kepentingan organisasi) dan loyalitas (keinginan untuk tetap menjadi anggota
organisasi yang bersangkutan) yang dinyatakan oleh seorang pegawai terhadap organisasinya. Steers
berpendapat bahwa komitmen organisasi merupakan kondisi dimana pegawai sangat tertarik
terhadap tujuan, nilai-nilai, dan sasaran organisasinya. Komitmen terhadap organisasi artinya lebih
dari sekedar keanggotaan formal, karena meliputi sikap menyukai organisasi dan kesediaan untuk
mengusahakan tingkat upaya yang tinggi bagi kepentingan organisasi demi pencapaian tujuan.

Berdasarkan definisi ini, dalam komitmen organisasi tercakup unsur loyalitas terhadap organisasi,
keterlibatan dalam pekerjaan, dan identifikasi terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi
Secara singkat pada intinya beberapa definisi komitmen organisasi dari beberapa ahli diatas
mempunyai penekanan yang hampir sama yaitu proses pada individu (pegawai) dalam
mengidentifikasikan dirinya dengan nilai-nilai, aturan-aturan, dan tujuan organisasi. Disamping itu,
komitmen organisasi mengandung pengertian sebagai sesuatu hal yang lebih dari sekedar kesetiaan
yang pasif terhadap organisasi, dengan kata lain komitmen organisasi menyiratkan hubungan
pegawai dengan perusahaan atau organisasi secara aktif. Karena pegawai yang menunjukkan
komitmen tinggi memiliki keinginan untuk memberikan tenaga dan tanggung jawab yang lebih dalam
menyokong kesejahteraan dan keberhasilan organisasi tempatnya bekerja.

Organisasi, siapa takut???

Mungkin itulah salah satu kalimat yang cocok meyakinkan untuk orang-orang
yang menganggap bahwah organisasi itu bersebrangan dengan nilai akademik.
Sekelompok orang atau beberapa individu ada yang beranggapan bahwa ikut aktif di
sebuah organisasi dapat mengganggu aktifitas studi mereka. Malahan ada yang
mengaggap bahwa ikut aktif disebuah organisasi tidak lain hanya sekedar kumpulkumpul, ikut-ikutan, dan membicatakan suatu topic tertentu yang menurut mereka tidak
berguna tidak berguan sama sekali.
Dari sini kita dapat menangkap sekelumit fenomena yang tentu saja tidak sesuai
dengan asas dan tujuan dari organisasi itu sendiri. Selain itu apakah ada hubungan
keterkaitan antara kebutuhan organisasi dan akademik.untuk menjawab hal ini kita harus
mengerti dulu apa itu sebenarnya organisasi dan bagaimana prakter pelaksanaannya yang
benar didalam organisasi itu. Nah kalo kita sudah benar benar tau, sudah barangtentu kita
tidak akan tergolong sekelompok orang-orang yang menilai negative tentang orang
berorganisasi.
Pertama, seperti yang kita ketahui organisasi merupakan sekelompok orang atau
suatu komunitas tertentu baik yang berlatar belakang pendidikan ataupun umum yang
memiliki dasar yang jelas untuk mencapai tujuan tertentu.contohnya, yang ada di sekitar
kita, kekeluargaan, organisasi ini berdasar pada kesamaan asal kedaerahan. Biasanya
organisasi seperti ini berdirih dengan rasa cinta dan memiliki mereka terhadap daerah asa
kalahiranya.dan biasanya hanya berdiri ketika keberadaan mereka diluar asal daerah
kelahiran mereka itu. Adapun tujuannya tentu saja pertama unutk tetap menjalin
silaturahim dan juga untuk menunjukkan bahwah ini toch daerah ku…!!!. Ini hanya salah
satu contoh kongkrit dari sebuah organisasi dan tujuannya masih banyak lagi yang lain.
Dari pengertian organisasi sendiri kita dapat mengambil satu poin penting yaitu
kata sekumpulan atau sekelompok. Tentu sebuah organisasi tidak lepas akan hal itu.
Bagaimana tidak, apa mungkin organisasi hanya dianggotai hanya satu individu saja.
Kalau seperti itu namanya bukan organisasi tapi sendiriasi. Bagaimana kok ada orang
seperti itu mengaggap organisasi bukan lah sesuatu yang penting sedangkan kita tahu
bahwa sebuah organisasi pasti didalamnya terdiri dari sekelompok orang yang berbeda
latar belakang, watak, pengetahuan serta pengelaman dan lain sebagainya. Dengan
keragaman dari sekelompok orang tersebutlah justru kita dapat memperoleh satu segi
positif dari berorganisasi. Beradu argument, saling memberi masukan satu samalain dan
saling mengisi jika ada kekurangan diantara kedua belah pihak tersebut. Nah secata tidak
langsung kita sudah dapat memperoleh nilai plus dari keikutsertaan dari sebuah
komunitas terasebut kan!! Dari pada kita mengotak-atik suatu hal menurut ide dan
pendapat kita sendiri malah itu belum tentu benar.